BONDOWOSO, 12 Agustus 2026 — Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso terus memperluas sinergi dengan dunia pendidikan melalui pemanfaatan kawasan hutan sebagai ruang pembelajaran berbasis praktik. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan sekaligus penyerahan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama SMK Ibrahimy 1 Sukorejo, Situbondo.
PKS tersebut mengatur pemanfaatan kawasan hutan dan lahan untuk kepentingan pendidikan yang berlokasi di Petak 29b, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Bayeman, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Prajekan).
Penandatanganan berlangsung di Ruang Sonokeling Kantor Perhutani KPH Bondowoso, Jalan Ahmad Yani Nomor 90, Bondowoso, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan dihadiri Administratur Perum Perhutani KPH Bondowoso Misbakhul Munir, didampingi Wakil Administratur Bondowoso Utara Totok Suharsono dan Wakil Administratur Bondowoso Selatan Indra Gunawan. Dari pihak pendidikan hadir Kepala SMK Ibrahimy 1 Sukorejo Umar Hasan, M.Pd.I, bersama lima orang ustadz atau tenaga pengajar.
Kerja sama tersebut tidak sekadar memberikan akses kawasan hutan untuk kegiatan pendidikan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari penguatan pembelajaran vokasional melalui konsep experiential learning. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami materi secara teoritis di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung di lapangan.
Kawasan yang dimanfaatkan akan menjadi wahana pembelajaran untuk mengenalkan siswa terhadap ekosistem hutan, pengelolaan lahan, budidaya tanaman, hingga pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya hutan.
Administratur Perum Perhutani KPH Bondowoso Misbakhul Munir menegaskan bahwa Perhutani terbuka terhadap kolaborasi dengan lembaga pendidikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi serta kompetensi generasi muda dalam bidang kehutanan dan lingkungan.
“Perhutani mendukung pemanfaatan kawasan hutan sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran praktik. Melalui kerja sama ini, siswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan sumber daya alam dengan tetap memperhatikan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi hutan, serta prinsip kelestarian dan tata kelola kawasan,” ujar Misbakhul Munir.
Menurutnya, pengenalan terhadap kawasan hutan sejak usia pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun forest awareness di kalangan generasi muda. Kesadaran tersebut diharapkan berkembang menjadi kepedulian nyata terhadap konservasi keanekaragaman hayati serta keberlanjutan ekosistem.
Bagi Perhutani, pendidikan kehutanan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kawasan hutan dimanfaatkan, tetapi juga bagaimana generasi muda memahami batas antara pemanfaatan dan perlindungan. Karena itu, kegiatan praktik di kawasan hutan diharapkan dapat membentuk pemahaman bahwa produktivitas lahan harus tetap berjalan beriringan dengan keberlanjutan fungsi ekologis.
Sementara itu, Kepala SMK Ibrahimy 1 Sukorejo Umar Hasan, M.Pd.I, menyambut positif terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, keberadaan kawasan praktik akan memberikan ruang yang lebih kontekstual bagi siswa untuk mengembangkan kompetensi sesuai bidang keahlian yang dipelajari.
“SMK Ibrahimy 1 Sukorejo memiliki salah satu konsentrasi keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP). Melalui kerja sama ini, siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan teori dengan praktik lapangan, mulai dari pengenalan jenis dan karakteristik tanaman, teknik budidaya dan pemeliharaan, hingga pengelolaan lahan yang memperhatikan aspek produktivitas dan keberlanjutan,” jelas Umar Hasan.
Dengan demikian, kerja sama tersebut diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan dunia pendidikan dengan pengalaman nyata dalam pengelolaan sumber daya alam. Siswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memahami aspek analitis, pengelolaan lahan, serta konsekuensi ekologis dari setiap aktivitas budidaya.
Umar Hasan juga berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan menjadi model teaching factory sekaligus pembelajaran berbasis lingkungan. Konsep itu diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kondisi nyata dunia kerja.
Melalui pola pembelajaran tersebut, peserta didik diharapkan memiliki bekal yang lebih komprehensif ketika memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Keterampilan teknis dipadukan dengan kemampuan menganalisis kondisi lapangan dan membangun karakter peduli terhadap lingkungan.
Penandatanganan PKS antara Perhutani KPH Bondowoso dan SMK Ibrahimy 1 Sukorejo sekaligus menjadi penanda semakin terbukanya ruang kolaborasi antara sektor pengelolaan kehutanan dan dunia pendidikan vokasional.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial penandatanganan kerja sama, tetapi berkembang menjadi aktivitas pembelajaran yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
Pada akhirnya, pemanfaatan kawasan hutan untuk pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang memahami bahwa hutan bukan semata-mata ruang produksi, melainkan ekosistem yang memiliki fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi. Karena itu, setiap bentuk pemanfaatannya harus ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang bertanggung jawab, produktif, sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan.
(Red/Tim – Biro Sitijenar Group Multimedia)






